Meningkatnya visibilitas kepemimpinan perempuan di Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir tercermin dari sembilan Pembimbing Organisasi Area (POA) yang saat ini melayani di Area Asia. Para sister ini, yang mewakili beragam budaya dan kebutuhan regional, akan memberikan petunjuk, bimbingan, dan dukungan lokal kepada para pemimpin Lembaga Pertolongan, Remaja Putri, dan Pratama dari Pakistan hingga Taiwan.
Berkaca dari pengalaman masa lalunya, Agnes Ng, seorang mantan POA dari Hong Kong berbagi pengalamannya melayani di grup perintisnya selama lima tahun. Dia mengenang sebuah terobosan signifikan yang terjadi ketika fokus mereka bergeser dari pelatihan formal ke mencari wahyu pribadi bersama-sama.
“Saya membagikan kepada mereka bahwa waktu yang kita luangkan bersama para pemimpin organisasi pasak dan distrik bukan hanya tentang menyediakan pelatihan bagi mereka, tetapi tentang membantu mereka menerima ilham dari Roh Kudus,” tuturnya. Menawarkan harapannya kepada para pembimbing, dia menambahkan, “Saya berdoa agar mereka akan memiliki penemanan Roh Kudus dan dapat merasakan serta membagikan kasih Bapa Surgawi dan kepedulian-Nya kepada orang lain. Tuhan memperhatikan para pemimpin sister ini.”
Meneruskan warisan yang telah mapan ini, Pembimbing Organisasi Area tahun 2026 membawa pengalaman profesional yang luas, empati yang mendalam, dan kedewasaan rohani yang teguh ke wilayah mereka:

2026-AOA_2.jpg
(Baris ke-1, kiri ke kanan): Bolinda Sok dari Kamboja, Grace (Ming Yu) Cheng dari Hong Kong, Minni Shalini Isaac dari India, Jeannet Mariana Oliveiro dari Indonesia, Chen Ying Lee dari Malaysia. (Baris ke-2, kiri ke kanan): Apphia Kiran Peter dari Pakistan, Janjira Sirisarn dari Thailand, Shu Wen Yang dari Taiwan, Thị Thanh Nguyen dari Vietnam.2026 by Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.- Bolinda Sok (Kamboja): Seorang manajer sumber daya produksi Gereja yang menyandang gelar magister di bidang keuangan, Sister Sok mencatat tantangan yang remaja hadapi dengan pergeseran budaya dan media sosial. Dia menyoroti fokus pada memupuk pemahaman yang mendalam tentang kasih Allah, mencatat, “Di mana ada kasih Allah, di situ ada kuasa penyembuhan Allah untuk memberkati, menghibur, dan menyembuhkan.”
- Grace (Ming Yu) Cheng (Hong Kong): Seorang pensiunan konsultan manajemen, Sister Cheng menyoroti kesulitan membangun kebiasaan rohani di kota yang serba cepat. Dia berencana untuk mendorong para pemimpin untuk mendedikasikan waktu setiap hari bagi Tuhan, mengingatkan mereka bahwa Allah memiliki rencana pribadi yang spesifik untuk kemajuan setiap individu.
- Minni Shalini Isaac (India): Bekerja untuk Departemen Pos India, Sister Isaac menceritakan tentang tekanan pengasuhan dan akademis yang diembankan kepada wanita dan remaja India. Belajar dari pengalamannya sendiri, dia berharap untuk menanamkan satu kebenaran inti di hati para pemimpin yang dia layani: “Tuhan menguatkan mereka yang Dia panggil, Anda tidak sendirian.”
- Jeannet Oliveiro (Indonesia): Seorang koordinator bahasa Gereja dan anggota selama hampir 50 tahun, Sister Oliveiro menekankan perlunya kearifan rohani untuk menavigasi teknologi dengan bijak. Golnya adalah untuk membantu para pemimpin mempertahankan fokus mereka kepada Juruselamat untuk menemukan kedamaian abadi.
- Chen Ying Lee (Malaysia): Seorang psikolog klinis, Sister Lee mengenali tantangan unik dalam menjalani kehidupan sebagai bagian dari agama minoritas. Dia berharap dapat membantu para sister setempat memahami nilai ilahi mereka sehingga mereka dapat menjauh dari tekanan duniawi dan memercayai bahwa Tuhan membimbing pekerjaan-Nya.
- Apphia Kiran Peter (Pakistan): Seorang lulusan MBA, Sister Peter memahami hambatan budaya dan kesempatan pendidikan yang terbatas yang banyak wanita lokal hadapi. Melalui bimbingannya, dia bertujuan untuk menciptakan “ruang yang aman dan membangkitkan semangat di mana mereka merasa didengar, dihargai, dan diberdayakan untuk membuat dampak positif dalam keluarga dan komunitas mereka.”
- Janjira Sirisarn (Thailand): Seorang pengusaha yang memiliki gelar magister dalam bidang administrasi publik, Sister Sirisarn memahami tekanan untuk memenuhi idealisme masyarakat. Dia memandang pelayanan Gereja sebagai proses pemurnian, membagikan bahwa pemanggilan adalah “kesempatan untuk transformasi, bukan hanya tanggung jawab untuk dipenuhi.”
- Shu Wen Yang (Taiwan): Sister Yang, seorang penerjemah lepas dengan gelar master di bidang pendidikan bahasa asing, mengamati tekanan akademis dan sosial yang kuat pada kaum muda Taiwan. Dia mendorong para pemimpin untuk memandang organisasi Gereja sebagai “suatu komunitas murid yang saling terhubung, yang pelayanannya saling terkait erat.”
- Thị Thanh Nguyen (Vietnam): Seorang insaf yang awalnya menghadapi pertentangan keluarga, Sister Nguyen saat ini bekerja untuk Gereja dalam layanan Dukungan Pemimpin & Anggota di Hanoi. Dia memiliki visi untuk membantu para wanita lokal menavigasi ekspektasi tradisional dengan bertumpu pada kebenaran bahwa mereka adalah “putri-putri terkasih Bapa Surgawi, yang dikasihi dengan sempurna, dengan tujuan dan potensi ilahi.”
“Kami sangat bersyukur atas dedikasi dan kesediaan para sister yang luar biasa ini untuk melayani,” tutur Penatua Kelly R. Johnson, Presiden Area Asia Gereja. “Kedewasaan rohani, pengalaman yang beragam, dan pengabdian mereka kepada Juruselamat akan memungkinkan mereka untuk secara mendalam memberkati, membimbing, dan mengajar para pemimpin Pratama, Remaja Putri, dan Lembaga Pertolongan pasak serta distrik sewaktu Gereja terus berakar dan bangkit di seluruh Area Asia.”
Untuk detail lebih lanjut mengenai Pembimbing Organisasi Area, klik di sini.