Jakarta, Indonesia -- Kunjungan bersejarah dari Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir kepada para pemimpin Katolik di Indonesia berlangsung pada 20 April 2026. Penatua Gérald Caussé dari Kuorum Dua Belas Rasul memimpin delegasi yang terdiri dari istrinya Valérie, Penatua Kelly R. Johnson dari Presidensi Area Asia dan istrinya Teressa, dengan perwakilan Gereja lokal. Mereka diterima oleh Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C., Ketua Konferensi Waligereja Indonesia dan perwakilan dari Keluarga Katolik dan Komisi Pemberdayaan Gender dan Perempuan.
“Kami menyambut Anda di sini untuk menjalin kerja sama yang lebih erat antara gereja Anda dan gereja Katolik,” tutur Mgr. Bunjamin dalam sambutannya setelah kunjungan tersebut. "Ini adalah cara untuk membangun dialog dalam konteks rasa kemanusiaan, demi mewujudkan perdamaian di dunia."
Pertemuan tersebut diwarnai dengan interaksi yang hangat mengenai program dan inisiatif masing-masing gereja, dengan penekanan pada peran sentral keluarga dalam membangun iman. Penatua Caussé kemudian memberikan hadiah berupa Pernyataan Keluarga yang dibingkai dalam bahasa Italia dan Indonesia kepada tuan rumah, serta secara langsung menjelaskan kepada mereka asas-asas di dalamnya yang sama-sama dimiliki oleh kedua kepercayaan tersebut.
Penatua Caussé juga mengambil kesempatan untuk berbagi tentang Bait Suci Jakarta Indonesia yang akan datang serta menjelaskan peranannya dalam peribadatan. Mgr. Bunjamin menyebut kunjungan itu “berkat bagi kami”, mendorong Gereja Yesus Kristus untuk menyelesaikan bait suci dan berkomunikasi lebih lanjut tentang peluang untuk kolaborasi.
| Temple Square is always beautiful in the springtime. Gardeners work to prepare the ground for General Conference. © 2012 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved. | 1 / 2 |
Pelayanan Kristiani
Keesokan harinya, Penatua Caussé mengunjungi Lembaga Alkitab Indonesia bersama Penatua Johnson dan mengunjungi museum dan perpustakaannya, yang menyimpan beberapa karya mereka untuk menerjemahkan Alkitab lengkap ke dalam 43 dari lebih dari 700 bahasa lokal. Dia juga disambut secara kehormatan dalam upacara budaya oleh Pendeta Dr. Henriette Hutabarat-Lebang, M.A., Presiden Asia Dewan Gereja-Gereja Sedunia dan Ketua Umum Organisasi. Pendeta Gomar Gultom, mantan presiden Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia [PGI], dan para kepala departemen lainnya dari lembaga tersebut juga hadir.
Penatua Caussé menyatakan penghargaannya atas upaya "tak ternilai" mereka untuk menjadikan Alkitab di Indonesia dapat diakses oleh semua orang. Dia mengakui bahwa melalui upaya tersebut mereka “melestarikan firman Allah dan perkataan manusia” sewaktu mereka menyelamatkan bahasa-bahasa yang kian berkurang penuturnya. Dia juga menyerahkan kepada mereka sebuah Pernyataan Keluarga berbingkai dan membagikan kutipan tentang Injil Yesus Kristus yang berpusat pada keluarga, yang selaras dengan penekanan mereka pada Ecclesia Domestica.
Pendeta Gultom kemudian menemani delegasi Gereja di sebelah Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia [PGI] di mana Penatua Caussé diberi pengarahan oleh Wakil Sekretaris Jenderal dan berbagai ketua komisi mengenai rencana induk lima tahun organisasi dan kemitraan saat ini dengan Gereja, terutama mengenai kebutuhan kemanusiaan.
Pendeta Gultom berterima kasih pada Gereja karena melanjutkan kolaborasi dan berharap itu akan berlanjut sampai “kedatangan Kristus”. Dia kemudian menceritakan bagaimana dia memulai hubungannya dengan Gereja Yesus Kristus, mengatakan bahwa dia memperhatikan banyak pekerjaan kemanusiaannya dan memutuskan untuk menyampaikan undangan untuk bekerja bersama karena keduanya memiliki “tujuan yang sama”. Di sepanjang perjalanan, dia menemukan “begitu banyak kesamaan” dan menemukan “persahabatan dengan keramahtamahan” khas iman Kristen, yang dia harapkan akan ditiru oleh semua gereja di Indonesia.
| Temple Square is always beautiful in the springtime. Gardeners work to prepare the ground for General Conference. © 2012 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved. | 1 / 2 |
Persahabatan Muslim
Pada 21 April 2026, Penatua Caussé mengunjungi Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A., Menteri Agama Republik Indonesia dan Imam Besar Masjid Istiqlal, agama terbesar di Asia Tenggara yang kemudian dikunjungi Rasul. Dia bergabung lagi dengan Sister Valérie Caussé dan Penatua Johnson, juga Penatua Kevin R. Duncan dari Presidensi Tujuh Puluh, Presiden Area Asia Penatua Benjamin M.Z. Tai, bersama pasangan para pemimpin tersebut. Dr. Umar mengucapkan syukur yang mendalam atas kesempatan untuk memperkuat ikatan “persahabatan yang bermakna”, mengucapkan selamat kepada Penatua Caussé atas pemanggilannya sebagai Rasul, dan berbagi tentang keragaman dan pluralisme Indonesia.
Mendeklarasikan bahwa “agama hendaknya menjadi jembatan”, Dr. Umar mengatakan bahwa “keragaman bukanlah beban tetapi harta” bagi negara mayoritas Muslim terbesar di dunia. Dia mencatat bahwa “teologi saya dan teologi Anda sangat mirip” dan mengundang kolaborasi di masa depan.
Dr. Umar menceritakan kenangan indahnya mengunjungi Utah pada tahun 2023 ketika dia menghadiri Simposium Hukum dan Agama Internasional Tahunanke-30 oleh Universitas Brigham Young (BYU). Dia berbagi bahwa dia merekomendasikan para siswanya untuk belajar di sana [BYU] jika mereka pergi ke Amerika karena rasanya berbeda dari bagian lain Amerika Serikat.
Penatua Caussé memuji fokus Kementerian dalam membina hubungan bertetangga dan menyatakan bahwa Gereja telah merasa disambut di Indonesia selama hampir enam dekade. Dia memberikan Dr. Umar kabar terbaru mengenai perkembangan bait suci di Jakarta dan penyelesaian yang masih berlangsung atas renovasi Bait Suci Salt Lake . Memberikan kenang-kenangan Bait Suci Salt Lake kepadanya, Penatua Caussé mengundang Menteri Umar ke perayaan tahun 2027 sebagai tamu kehormatan.
Penatua Caussé juga makan siang bersama Alissa Wahid, direktur Jaringan GUSDURian dan putri sulung almarhum Presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid. Sister Caussé, keluarga Tais dan Johnson berperan serta. Dia menceritakan kepada Penatua Caussé kisah-kisah tentang persahabatan ayahnya dengan Gereja dari tahun 1997 dan bagaimana dia meneruskan warisan ayahnya melalui peranannya serta pengalaman masa lalunya sebagai perempuan pertama yang duduk di Dewan Pimpinan Pusat organisasi Islam terbesar, Nahdlatul Ulama.
| Temple Square is always beautiful in the springtime. Gardeners work to prepare the ground for General Conference. © 2012 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved. | 1 / 2 |
Penatua Caussé mengatakan bahwa “Indonesia adalah negara yang menunjukkan jalan dalam toleransi beragama – kami mengasihinya dan kami ingin menjadi bagian darinya.” Dia membagikan empat prioritas utama Gereja dan mengutip kata-kata terkenal dari mendiang ayahnya tentang menghormati perbedaan dan menghormati persatuan untuk “mencintai perbedaan kita dan membangun di atas kesamaan kita.”
“Hubungan antara keluarga Wahid dan Gereja bukan hanya sekedar persahabatan,” kata Alissa Wahid dalam wawancara selanjutnya. “Ada nilai-nilai dan asas-asas universal yang kami bagikan dan itulah mengapa itu sangat mudah bagi keluarga Wahid untuk menghormati apa yang kami pelajari dari komunitas Gereja selama ini. Kami belajar begitu banyak dan kami juga melihat diri kami sendiri dalam komunitas Gereja. Jadi kami berharap untuk memperkuat hubungan antara kedua belah pihak dan juga untuk memperluasnya.”
| Temple Square is always beautiful in the springtime. Gardeners work to prepare the ground for General Conference. © 2012 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved. | 1 / 2 |
Pertemuan Pemerintah
Download PhotoDi Vietnam, Penatua Caussé dan Penatua Johnson memberikan salam kepada Wakil Ketua Komite Pemerintah untuk Urusan Agama (GCRA) Nguyễn Tiến Trọng dan Dr. Nguyen Van Thanh, Kepala Departemen Urusan Etnis dan Agama di Central Committee of the Vietnam Fatherland Front. Kedua pejabat itu juga menghadiri Simposium BYU pada tahun-tahun sebelumnya dan mengenang pengalaman mereka saat dijamu di sana, dengan Wakil Ketua Nguyen menceritakan bagaimana dia bertemu dengan para purnamisionaris dari Vietnam dan Dr. Nguyen mengenang kunjungan itu dengan penuh kesan.
Penatua Johnson melaporkan tentang kegiatan Gereja baru-baru ini dan upaya kemanusiaan serta secara khusus berbagi dengan GCRA bagaimana diizinkannya para misionaris muda untuk datang ke Vietnam menghasilkan dampak ketika mereka kembali ke rumah sebagai para duta, setelah belajar mengasihi bahasa, masyarakat dan negeri tersebut. Penatua Caussé berterima kasih kepada kedua organisasi tersebut atas upaya mereka untuk membantu dan mendukung Gereja di Viet Nam kemudian menghadiahkan kepada mereka Kitab Mormon dalam bahasa Vietnam.
“Saya terkesan dengan cara kami disambut, kehangatan mereka dan kemampuan yang kami miliki untuk membangun jembatan pemahaman itu,” tutur Penatua Caussé tentang kunjungan lintas agama dan pemerintahannya. "Kita semua adalah putra dan putri Allah, dan kita memiliki banyak kesamaan. Dan itu adalah cara khusus untuk melihat bahwa, sesungguhnya, Juruselamat kita Yesus Kristus memberi kita teladan yang baik untuk mengasihi semua dan mengasihi masing-masing."